Selasa, 22 November 2011

Nata De Coco


BAB I.
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kata nata berasal dari bahasa Spanyol yang berarti krim. Nata diterjemahkan ke dalam bahasa Latin sebagai 'natare' yang berarti terapung-apung. Nata dapat dibuat dari air kelapa, santan kelapa, tetes tebu (molases), limbah cair tebu, atau sari buah (nanas, melon, pisang, jeruk, jambu biji, strawberry dan lain-lain). Nata yang dibuat dari air kelapa disebut nata de coco. Di Indonesia, nata de coco sering disebut sari air kelapa atau sari kelapa. Nata de coco pertama kali berasal dari Filipina. Di Indonesia, nata de coco mulai dicoba pada tahun 1973 dan mulai diperkenalkan pada tahun 1975. Namun demikian, nata de coco mulai dikenal luas di pasaran pada tahun 1981 (Sutarminingsih, 2004).
Di Indonesia pada awalnya, industri pengolahan nata diawali di tingkat usaha rumah tangga (home industry) dengan menggunakan sari buah nanas sebagai bahan bakunya sehingga produknya sering disebut nata de pina. Seperti pada umumnya usaha buah-buahan musiman lainnya, keberlangsungan produksi nata de pina terbentur dengan kendala sifat musiman tanaman nanas. Sehingga produksi nata de pina tidak dapat dilakukan sepanjang tahun. Keberlangsungan input merupakan hal yang penting dalam manajemen agribisnis termasuk nata de coco (Gumbira dan Intan, 2001). Untuk mengatasi kendala tersebut, alternatif penggunaan bahan lain yang mudah didapat, tersedia sepanjang tahun dan harganya murah adalah air kelapa. Pada mulanya air kelapa kebanyakan hanya merupakan limbah dari industri pembuatan kopra atau minyak goreng (Jawa: klentik). Nata dari air kelapa yang kemudian terkenal dengan nama nata de coco merupakan hasil fermentasi air kelapa dengan bantuan mikroba acetobacter xylinum. Jumlah air kelapa yang dihasilkan dari buah kelapa di Indonesia kurang lebih 900 juta liter per tahun (Sutardi 2004).
Nata de coco merupakan salah satu produk olahan air kelapa yang memiliki kandungan serat tinggi dan kandungan kalori rendah sehingga cocok untuk makanan diet dan baik untuk sistim pencernaan serta tidak mengandung kolesterol sehingga mulai poluler di kalangan masyarakat yang memiliki perhatian pada kesehatan. Nata de coco tidak hanya memiliki pasar domestik tetapi juga pasar ekspor terutama Eropa, Jepang, Amerika Serikat dan negara-negara Timur Tengah. Di pasar domestik, permintaan nata de coco biasanya meningkat tajam pada saat menjelang hari raya Natal, Lebaran, Tahun Baru dan peristiwa-peristiwa penting lainnya. Begitu banyaknya permintaan pada waktu-waktu tersebut, banyak rumah tangga yang secara sporadis membuat nata de coco untuk memanfaatkan kesempatan tersebut. Negara-negara penghasil nata de coco pesaing Indonesai adalah Filipina, Malaysia dan Vietnam. Di pasar ekspor, Filipina merupakan saingan utama produk nata de coco. Di Jepang, 90% nata de coco diimpor dari Filipina. Orang Jepang percaya bahwa nata de coco dapat melindungi tubuh dari kanker dan digunakan untuk makanan diet (DAAMAS, 2004).
Dari segi skala perusahaan, usaha nata de coco dilakukan oleh beberapa perusahaan besar-menengah dan juga banyak sekali perusahaan kecil-rumah tangga. Tentu saja mereka memiliki segmentasi pasar sendiri-sendiri. Perusahaan besar-menengah memiliki pasar yang relatif lebih luas mencangkup pasar domestik dan pasar ekspor. Sedangkan perusahaan kecil-rumah tangga memiliki pasar lokal dan daerah sekitar. Usaha kecil-rumah tangga nata de coco telah banyak menyerap tenaga kerja lokal. Oleh karena itu, pemerintah sangat mendukung usaha nata de coco tersebut melalui pemberian latihan/bimbingan teknis dan bantuan modal pada usaha kecil.
Sebenarnya nata de coco merupakan hasil sampingan (limbah) buah kelapa. Buah kelapa merupakan bagian terpenting dari tanaman kelapa karena memiliki nilai ekonomis dan gizi yang tinggi. Dilihat dari persentase komponennya, buah kelapa terdiri dari empat komponen yaitu 35% sabut, 12% tempurung, 28% daging buah dan 25% air kelapa. Masing-masing komponen dapat dimanfaatkan untuk produk makanan maupun non makanan. Sebagai contoh serabut untuk kerajinan keset, sapu, furniture; tempurung kelapa untuk arang; buah kelapa untuk minyak goreng, santan, kopra; dan air kelapa untuk nata de coco. Dari total produksi kelapa di Indonesia 34,7% diolah untuk santan, 8% untuk minyak goreng dan 57,3% untuk kopra (Kompas, 2004). Terdapat bermacam-macam output hasil olahan buah kelapa. Gambar 1.1. menunjukkan output derivasi dari buah kelapa. Nata de coco hanya merupakan salah satu output derivasi dari air kelapa, selain asam cuka minuman dan obat penurun panas.


Dari segi keberlangsungan pasokan input, usaha nata de coco memiliki prospek yang cerah. Daerah penghasil kelapa di Indonesia antara lain Sulawesi Utara, Riau, Jambi, Lampung, Daerah Istimewa Aceh, Sumatra Barat, Sumatra Utara, Sulawesi Tengah, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Sebesar 90,86% dari total produksi kelapa Indonesia berasal dari daerah-daerah tersebut (Departemen Pertanian 2004). Data sampai dengan tahun 1999 menunjukkan bahwa Indonesia merupakan penghasil kelapa terbesar di dunia diikuti India dan Filipina (DAAMAS 2004). Tabel 1.1 menunjukkan produksi kelapa di Indonesia, Filipina, India dan Total dunia 1995-1999.
Tabel 1.1.Produksi Kelapa (000 metric tons)
Negara
1995
1996
1997
1998
1999
Indonesia
13.868
14.138
14.710
14.710
13.000
Filipina
10.300
11.318
12.053
10.493
11.000
India
8.000
9.649
9.800
10.000
11.000
Total Dunia
45.068
47.733
49.354
47.696
47.480
Sumber: Biro Statistik Pertanian - Filipina http://www.da.gov.ph/agribiz/coconut1.html
Buah kelapa memiliki kontribusi pembangungan ekonomi di Nanggroe Aceh Darussalam. Dari buah kelapa ini saja sudah terdapat tiga industri menengah dan besar, 270 industri kecil formal dan nonformal. Dari sekitar 7.537 unit usaha yang menyerap 39.532 tenaga kerja di sektor industri, hanya sekitar enam% saja tenaga kerja yang terkait dengan industri dengan latar belakang pemanfaatan kelapa.
Usaha nata de coco memberikan dampak yang positif terhadap masyarakat sekitar karena mengingat bahan dasar nata de coco hanya merupakan limbah produksi kopra. Dengan asumsi setiap petani dapat menghasilkan 10 jerigen (kapasitas 20 liter) atau 200 liter dalam satu hari, petani akan mendapatkan tambahan penghasilan Rp 20.000-Rp30.000 per hari (harga per liter: Rp 100 - Rp 150 per liter). Air kelapa memiliki kandungan vitamin seperti ditunjukkan oleh tabel Tabel 1.2.
Tabel 1.2. Komposisi Vitamin Air Kelapa

No.
Jenis Vitamin
ug/ml
1.
Asam nikotinat
0,01
2.
Biotin
0,02
3.
Asam pantotenat
0,52
4.
Riboflavin
0,01
5.
Asam fosfat
0,03
Sumber: Dolendo dan Pacita (1967); cit.: Khak (1999), Sutarminingsih (2004).
Dari segi sosial, usaha nata de coco menyerap tenaga kerja lokal yang besar baik perusahaan menengah, besar, kecil maupun rumah tangga. Usaha ini hanya menggunakan teknologi yang sederhana tanpa perlu pengetahuan yang spesifik. Sehingga, usaha ini dapat dilakukan dalam usaha skala kecil maupun skala usaha rumah tangga terutama di daerah penghasil kelapa atau kawasan industri pangan yang bahan bakunya dari daging buah kelapa seperti industri minyak kelapa, industri geplak dan lain-lain (Sutardi, 2004).
Limbah usaha nata de coco adalah limbah cair yang asam baik bau maupun rasa. Limbah ini tidak membahayakan. Pengolahan limbah dilakukan dengan proses yang sederhana, yaitu dengan membuatkan bak penampungan di dalam tanah. Bahkan, beberapa pengusaha menggunakan air limbah tersebut untuk menyiram tanaman kelapa di perkebunan.
Menanggapi permasalahan di atas, penulis ingin melihat sejauh mana respon para pengusaha terhadap pendapatan Home Industri. Adapun  judul penelitian penulis adalah “ Analisis Pendapatan dan Keuntungan Usaha Nata De Coco Khausar Pada CV.Mitra Kurnia Gampong Rumpet Kecamatan Krueng Barona Jaya Kabupaten Aceh Besar”.

B.     Permasalahan
Berdasarkan dari latarbelakang diatas, maka penulis ingin mengetahui berapa besar pendapatan dan keuntungan dari hasil penjualan Nata De Coco tersebut?


C.    Manfaat Kegiatan
Manfaat atau kegunaan Bakti Propesi ini merupakan suatu uji coba kemampuan penerapan ilmu yang telah diterima dalam masa studi dan diaplikasikan langsung ke lapangan. Selain itu juga menjadi motivasi bagi mahasiswa untuk menjadi pelaku dalam dunia usaha dimasa mendatang.

D.    Tujuan Bakti Propesi
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendapatan dan keuntungan dari hasil produksi Nata De Coco Khausar yang dilakukan oleh para pengusaha di Kecamatan Krueng Barona Jaya Kabupaten Aceh Besar.

E.     Kegunaan
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pedoman dan bahan pertimbangan bagi pengambil keputusan dalam kaitan , untuk mengetahui tanggapan petani terhadap peluang komoditi Nata De Coco, untuk mengetahu besar pendapatan dan keuntungan yang diterima oleh pengusaha Nata De Coco tersebut.



BAB II
GAMBARAN UMUM USAHA
1.      Profil  Pengusaha
Usaha CV.Mitra Kurnia adalah sebuah usaha yang bergerak dibidang Home Industri, tepatnya Industri Produk Masak Dari Kelapa (Nata De Coco). Usaha ini terletak di Desa Rumpet, Kabupaten Aceh Besar. Usaha ini didirikan pada tahun 2000 oleh Bapak Drs.Tgk. H. M. Yahya. Awalnya Bapak M. Yahya tidak hanya membuat Nata saja akan tetapi beliau juga membuat produk laim seperti kecap dan saus.  Home Industri ini didirikan karena masih kurangnya minat masyarakat kota Banda Aceh dan Aceh Besar untuk menghasilkan produk. Maka dalam hal ini usaha  Natalah yang menjadi objek Bapak M. Yahya, dengan asumsi peluang pasar lebih besar (memungkinkan untuk menjadi leader market) karna masih jarangnya pengusaha lainnya.
2.      Profil Usaha
Usaha Nata adalah sebuah peluang besar jika dikembangkan di wilayah Aceh, mengingat permintaan Nata De Coco yang terjadi dipasar sangatlah tinggi sehingga belum dapat dipenuhi, dalam hal ini masih sangat dibutuhkan pasokan dari daerah Sumatra Utara. Adanya permintaan akan pasar terhadap Nata yang semakin tinggi, menandakan bahwa masyarakat sudah mulai mengetahui nilai gizi Nata De Coco tersebut.
3.      Sumber Modal
usaha Bapak M. Yahya dimulai dari usaha ini yang didirikan tepatnya pada tahun  2000 dengan modal yang digunakan adalah sepenuhnya modal sendiri. Bermodalkan uang sebesar Rp.200.000..000; usaha Nata De Coco Bapak M.Yahya telah berdiri.
Dalam seebuah usaha tentunya memiliki banyak tantangan dan peluang, dimana tantangan dan peluang ini  juga menghampiri usaha CV.Mitra Kurnia. Tepatnya pada tahun 2004 dimana musibah Tsunami terjadi, juga memberikan dampak yang besar bagi usaha ini. Musibah itu menyebabkan usaha Nata ini menjadi vakum hingga beberapa tahun. Kevakuman usaha ini berlangsung lama hingga tahun 20010. Namun seorang yang memiliki jiwa  pengusaha, pastinya dapat melihat peluang disekitarnya, dan mampu untuk bangkit dikala gagal. Inilah yang terjadi pada usaha CV.Mitra Kurnia.
Pada tahun 2010, CV.Mitra Kurnia kembali bangkit dengan peforma yang mengagumkan. Dengan besarnya keyakinan dan minat konsumen maka CV.Mitra Kurnia ini didirikan kembali dengan modal investasi yang ringan yaitu Rp.50.000; tidak termasuk tanah dan bangunan, karna tanah tempat pendirian usaha ini milik sendiri. Produk yang dihasilkan dengan kapasitas produksi terpasang pertahun 20.000 dus.
4.      Struktur Organisasi
Struktur organisasi pada usaha nata de coco Khausar ini adalah berbentuk garis, yang artinya setiap tingkatan jenjang organisasi dipimpin oleh seorang atasan yang membawahi beberapa karyawan yang bertanggung jawab langsung kepada atasan.


Dalam skema diatas dapat kita lihat bahwa direktur merupakan posisi paling tinggi dalam organisasi, pengambil keputusan dan penanggung jawab utama tercapai tujuan. Wakil Direktur merupakan pembantu direktur, bertanggung jawab atas kegiatan operasional. Sedangkan para karyawan atau tenaga kerja bertugas dalam proses produksi dan pengolahan yang selalu diawasi oleh wakil direktur.
5.      Sumber Bahan Baku
Bahan baku merupakan sarana produksi yang habis dipakai dalam sekali proses produksi. Bahan baku adalah bahan dasar yang digunakan dalam pembuatan suatu produk. Dalam pelaksanaan produksi nata de coco  ini bahan baku utama yang digunakan adalah air kelapa yang berasal dari kelapa tua. Bahan baku tersebut dapat diperoleh dari tempat-tempat pengukuran kelapa yang terdapat di Pasar Peunayong, Banda Aceh. Biasanya air kelapa ini terbuang percuma  dan untuk mendapatkan sejumlah besar bahan baku tidak dibutuhkan biaya yang besar, biasanya untuk 20 liter hanya Rp.3000. Bahan baku dipersiapkan dalam kapasitas besar sebelum proses produksi berlangsung.
6.      Tenaga kerja
Jumlah tenaga kerja tetap yang dipekerjakan di perusahaan ini adalah sebanyak 4 orang. Industri ini mempekerjakan 2 orang pekerja wanita dan 2 orang pekerja laki-laki. Tenaga kerja tersebut bersifat terikat, namun upah dibayarkan di akhir bulan. Upah yang dibayar berbeda-beda menurut skill yang dimiliki. Dua pekerja wanita bertanggung jawab atas pembuatan lembaran nata de coco, dan pengemasan nata de coco. Sedangkan dua orang pekerja laki-laki bertanggung jawab dalam pemotongan lembarab nata de coco dan pembuangan asam nata de coco.


BAB III
HASIL PELAKSANAAN KEGIATAN
1.      Lokasi dan Waktu
Lokasi penelitian adalah di CV.Mitra Kurnia di Desa Rumpet, Kec. Krueng Barona Jaya  Aceh Besar.
2.      Data
Metode pengambilan data yang dilakukan dalam pelaksanaan praktikum pada usaha Nata De Coco CV.Mitra Kurnia meliputi dua cara:
a.       Interview (wawancara)
Untuk memperoleh data penulis melakukan wawancara langsung dengan pimpinan perusahaan yaitu Bapak H.M. Yahya dan tenaga kerjanya sehingga penulis ,memperoleh data-data yang diperlukan dalam penulisan laporan praktikum ini.
b.      Observasi (pengamatan)
Selain wawancara, penulis juga melakukan pengamatan langsung ke tempat usaha Nata De Coco CV.Mitra Kurnia sekaligus mempelajari teknik-teknik pembuatan Nata De Coco sehingga penulis memperoleh data yang dapat memperkuat data sebelumnya.
3.      Cara membuat nata
Nata de Coco merupakan makanan pencuci mulut (desert). Nata de Coco adalah makanan yang banyak mengandung serat, mengandung selulosa kadar tinggi yang bermanfaat bagi kesehatan dalam membantu pencernaan.
Kadungan kalori yang rendah pada Nata de Coco merupakan pertimbangan yang tepat produk Nata de Coco sebagai makan diet. Dari segi penampilannya makanan ini memiliki nilai estetika yang tinggi, penampilan warna putih agak bening, tekstur kenyal, aroma segar. Dengan penampilan tersebut maka nata sebagai makanan desert memiliki daya tarik yang tinggi. Dari segi ekonomi produksi nata de coco menjanjikan nilai tambah. Pembuatan nata yang diperkaya dengan vitamin dan mineral akan mempertinggi nilai gizi dari produk ini.
Nata de Coco dibentuk oleh spesies bakteri asam asetat pada permukaan cairan yang mengandung gula, sari buah, atau ekstrak tanaman lain. Beberapa spesies yang termasuk bakteri asam asetat dapat membentuk selulosa, namun selama ini yang paling banyak dipelajari adalah Acetobacter xylinum. Bakteri Acetobacter xylinum termasuk genus Acetobacter. Bakteri Acetobacter xylinum bersifat Gram negatip, aerob, berbentuk batang pendek atau kokus.
Pemanfaatan limbah pengolahan kelapa berupa air kelapa merupakan cara mengoptimalkan pemanfaatan buah kelapa. Limbah air kelapa cukup baik digunakan untuk substrat pembuatan Nata de Coco. Dalam air kelapa terdapat berbagai nutrisi yang bisa dimanfaatkan bakteri penghasil Nata de Coco. Nutrisi yang terkandung dalam air kelapa antara lain : gula sukrosa 1,28%, sumber mineral yang beragam antara lain Mg2+ 3,54 gr/l, serta adanya faktor pendukung pertumbuhan (growth promoting factor) merupakan senyawa yang mampu meningkatkan pertumbuhan bakteri penghasil nata (Acetobacter xylinum).
Adanya gula sukrosa dalam air kelapa akan dimanfaatkan oleh Acetobacter xylinum sebagai sumber energi, maupun sumber karbon untuk membentuk senyawa metabolit diantaranya adalah selulosa yang membentuk Nata de Coco. Senyawa peningkat pertumbuhan mikroba (growth promoting factor) akan meningkatkan pertumbuhan mikroba, sedangkan adanya mineral dalam substrat akan membantu meningkatkan aktifitas enzim kinase dalam metabolisme di dalam sel Acetobacter xylinum untuk menghasilkan selulosa.
Dengan perrtimbangan diatas maka pemanfaatan limbah air kelapa merupakan upaya pemanfaatan limbah menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Fermentasi Nata de Coco dilakukan melalui tahap-tahap berikut:
Persiapan bahan dan alat : 
  • Pemeliharaan biakan murni Acetobacter xylinum 
  • Pembuatan starter 
  • Pembuatan lembaran nata de coco 
  • Fermentasi  
  • Pemanenan  
  • Pengolahan   
  • Pengemasan
3.1. Pemeliharaan Kultur Murni Acetobacter xylinum
Biakan atau kultur murni Acetobacter xylinum diperoleh di laboratorium Mikrobiologi Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian, Bogor. Kultur tersebut tumbuh pada media Hassid Barker. Koleksi kultur dapat dalam bentuk kering beku dalam ampul, maupun dalam bentuk goresan dalam agar miring (slant agar). Koleksi kultur dalam bentuk kering beku dalam ampul dapat bertahan hidup bertahun-tahun tanpa peremajaan. Sedangkan koleksi kultur dalam agar miring perlu peremajaan setiap 2-3 bulan. Kebanyakan koleksi kultur pemeliharaannya dengan cara peremajaan dilakukan pada media agar miring.
Pemeliharaan koleksi kultur yang dimiliki dapat dilakukan dengan cara: pembuatan media Hassid Barker Agar (HBA) dalam tabung reaksi dan peremajaan kultur setiap 2-3 bulan. Komposisi media HBA adalah sebagai berikut: sukrosa 10%, (NH4)2SO4 0,6 g/L, K2HPO4 5,0 g/L, ekstrak khamir 2,5 g/L 2 % asam asetat glasial, agar difco 15 g/L . Media HBA dimasukkan kedalam tabung reaksi dan disterilkan dalam autoclave 121 oC, 2 atm, selama 15 menit. Media dalam tabung reaksi masih panas diletakkan mring hingga membeku untuk menghasilkan media agar miring. Peremajaan dapat dilakukan dengan cara menggoreskan 1 ose kultur kedalam media agar miring yang telah dipersiapkan. Kutur baru diinkubasi pada suhu kamar, selama 2-3 hari. Kultur akan tumbuh pada media HBA miring dengan bentuk sesuai alur goresan. Kultur yang terlah diremajakan siap untuk kultur kerja, dan sebagian disimpan untuk kultur simpan atau kultur stok (Stock Culture).
3.2. Proses Pembuatan
Peralatan yang diperlukan:
1.       Kompor
2.      Panci untuk merebus media / air kelapa
3.      Gelas ukur besar 1liter dan 250 mililiter
4.       Pengaduk
5.      . Pisau pengiris nata
6.       Plastik kemasan 1/2 kg
7.      . Saringan air kelapa/ ayakan tepung
8.      . Nampan/ wadah untuk fermentasi
9.       Kain putih/mori untuk penutup 3 m
10.   Tali pengikat/karet
11.   Ember/baskom perendam/pencuci
12.   Timbangan kue
13.   Sealing cup ukuran aqua gelas
Bahan yang diperlukan:
1.       Air kelapa 25 liter
2.       Gula pasir 2,5 kg
3.       Asam cuka (asam asetat 25%)/asam cuka dapur 400 mili liter
4.       Urea 25 g
5.       Sirup rasa dan warna disesuaikan kesukaan masyarakat
6.       Kap gelas (ukuran aqua gelas)
7.       llumunium foil satu gulung
8.       Sendok plastic

3.3. Pembuatan lembaran nata de coco
1.      Penyaringan air kelapa. Penyaringan ini dilakukan untuk memisahkan air dari kotoran-kotoran atau serbuk-serbuk sabut kelapa yang ikut terbawa. Pada industri ini, penyaringan dilakukan dengan menggunakan kain saring dengan ukuran dengan akuran mesh yang lebih kecil dari saringan plastic biasanya. Jumlah air yang digunakan untuk sekali produksi adalah 100 liter.
2.      Penambahan gula, Alumunium sulfat, dan asam asetat glasial. Ketiga bahan tersebut ditambahkan kedalam air kelapa untuk dapat menciptakan kondisi pertumbuhan yang sesuai untuk pertumbuhan bakteri yang akan diinokulasikan. Gula dan Alumunium sulfat digunakan sebagai sumber nutrisi karbon dan nitrogen bagi bakteri, sedangkan asetat glacial ditambahkan untuk menciptakan kondisi asam dengan pH 4-4,5. Dari 100 liter air kelapa yang digunakan, ditambahkan gula sebanyak 40cc, alumunium sulfat 40cc, dan asam asetat glacial 40cc.
3.      Pemanasan larutan. Pemanasan larutan dilakukakan hingga suhu 100 derajat Celsius untuk melarutkan seluruh larutan gula, Alumunium sulfat, dan asam asetat glacial yang ditambahkan kedalam air kelapa.
4.      Penyaringan kembali larutan air kelapa. Penyaringan ini dimaksudkan untuk memisahkan larutan dari kotoran-kotoran yang mungkin terdapat pada gula, Alumunium sulfat, dan asam asetat glacial.
5.      Pendinginan setelah pemanasan, larutan dituang kedalam wadah fermentasi (talam) dan ditutup dengan kertas koran yang steril hingga larutan menjadi dingin selama 2-3 jam
6.      Penambahan starter. Starter ditambahkan kedalam larutan setelah larutan tersebut benar-benar menjadi dingin. Banyak starter yang ditambahkan sekitar 1 botol starter dapat untuk 6 talam. Kemudian ditutup dengan kertas Koran yang steril dan diikat dengan karet.
7.      Proses fermentasi. Fermentasi dilakukan dengan meletakan wadah-wadah fermentasi tersebut diatas rak fermentasi atau dirung kamar hingga 7 hari sampai berbentuk lapisan nata dengan ketebalan yang diinginkan. 
3.4.Persiapan Substrat

Sustrat adalah media pertumbuhan bakteri Acetobacter xylinum, bentuk cair yang didalamnya mengandung nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan Acetobacter xylinum, untuk menghasilkan Nata de Coco.
Cara penyiapan substrat untuk pembuatan Nata de Coco dengan bahan baku air kelapa √°dalah sebagai berikut; air kelapa yang diperoleh dari pasar disaring dengan menggunakan kain saring bersih. Ke dalam air kelapa ditambahkan sukrosa (gula pasir) sebanyak 10% (b/v). Gula ditambahkan sambil dipanaskan, diaduk hingga homogen. Urea (sebanyak 5 gram urea untuk setiap 1 liter air kelapa bergula yang disiapkan) ditambahkan dan diaduk sambil didihkan. Substrat ini didinginkan, kemudian ditambah asam acetat glacial (asam cuka ) sebanyak 2% atau asam cuka dapur 25% (16 ml asam asetat untuk setiap 1 liter air kelapa). Substrat disterilkan dengan cara dimasukkan dalam outoclave pada suhu 121 oC, tekanan 2 atm, selama 15 menit (atau didihkan selama 15 menit). 

3.5.Penyiapan Starter
Starter adalah bibit Acetobacter xylinum yang telah ditumbuhkan dalam substrat pertumbuhan kultur tersebut sehingga populasi bakteri Acetobacter xylinum mencapai karapatan optimal untuk proses pembuatan nata, yaitu 1 x 109 sel/ml. Biasanya kerapatan ini akan dicapai pada pertumbuhan kultur tersebut dalam susbtrat selama 48 jam (2 hari).
Penyiapan starter adalah sebagai berikut: substrat disterilkan dengan outoclave atau dengan cara didihkan selama 15 menit. Setelah dingin kira-kira susu 40 oC, sebanyak 300 ml dimasukkan ke dalam botol steril volume 500 ml. Substrat dalam botol steril diinokulasi (ditanami bibit bakteri Acetobacter xylinum) sebanyak 2 ose (kira-kira 2 pentol korek api), bibit Acetobacter xylinum. Substrat digojog, sebaiknya menggunakan shaker dengan kecepatan 140 rpm ( secara manual digojog setiap 2-4 jam ). Starter ditumbuhkan selama 2 hari, pada suhu kamar. 

3.6.Fermentasi
Fermentasi adalah suatu proses pengubahan senyawa yang terkandung di dalam substrat oleh mikroba (kulture) misalkan senyawa gula menjadi bentuk lain (misalkan selulosa / Nata de Coco), baik merupakan proses pemecahan maupun proses pembentukan dalam situasi aerob maupun anaerob. Jadi proses fermentasi bisa terjadi proses katabolisme maupun proses anabolisme.
Fermentasi substrat air kelapa yang telah dipersiapkan sebelumnya prosesnya sebagai berikut; substrat air kelapa disterilkan dengan menggunakan outoclave atau dengan cara didihkan selama 15 menit. Substrat didinginkan hingga suhu 40oC. Substrat dimasukkan pada nampan atau baskom steril dengan permukaan yang lebar, dengan kedalaman substrat kira-kira 5 cm. Substrat diinokulasi dengan menggunakan starter atau bibit sebanyak 10 % (v/v). Substrat kemudian diaduk rata, ditutup dengan menggunakan kain kasa. Nampan diinkubasi atau diperam dengan cara diletakan pada tempat yang bersih, terhindar dari debu, ditutup dengan menggunakan kain bersih untuk menghindari terjadinya kontaminasi. Inkubasi dilakukan selama 10 – 15 hari, pada suhu kamar. Pada tahap fermentasi ini tidak boleh digojok. Pada umur 10-15 hari nata dapat dipanen.

3.7.Proses Pengolahan Nata de Coco
Nata de Coco yang dipanen pada umur 10-15 hari, dalam bentuk lembaran dengan ketebalan 1 - 1,5 cm. Nata de Coco dicuci dengan menggunakan air bersih, diiris dalam betuk kubus, dicuci dengan menggunakan air bersih. Nata de Coco direndam dalam air bersih selama 2-3 hari. Agar rasa asam Nata de Coco hilang perlu direbus hingga selama 10 menit. Hingga tahap ini telah dihasilkan Nata de Coco rasa tawar.
Untuk menghasilkan Nata de Coco siap konsumsi yang memiliki rasa manis dengan flavour tertentu perlu dilakukan proses lanjut. Nata de Coco direbus dalam air bergula. Penyiapan air bergula dengan cara menambahkan gula pasir sebanyak 500 gr ke dalam 5 liter air ditambahkan vanili atau flavour agent lain untuk menghasilkan valour yang diinginkan. Potongan Nata de Coco bentuk dadu dumasukkan kedalam air bergula selanjutnya direbus hingga mendidih selama 15 menit. Nata de Coco didingankan dan siap untuk dikonsumsi 

3.8.Pengemasan
Kemasan merupakan aspek penting dalam rangka menghasilkan produk Nata de Coco untuk keperluan komersial. Dengan demikian proses pengemasan perlu dilakukan secara teliti dan detail prosesnya sehingga menghasilkan nilai tambah yang optimal dari manfaat dan tujuan pengemamasan tersebut.
Kemasan terhadap produk Nata de Coco memiliki tujuan seabagai berikut: 
a.       Mengawetkan produk agar bertahan lama tidah rusak. 
b.      Memberikan sentuhan nilai estetika terhadap produk sehingga memiliki daya tarik yang lebih tinggi. 
c.       Meningkatkan nilai tambah secara ekonomi terhadap produk. 
d.      Memudahkan proses penyimpanan dan distribusi produk.
Pengemasan dapat dilakukan dengan kemasan yang sederhana dengan menggunakan kantung plastik kemasan dengan usuran bervariasi ½ kg, 1 kg dan seterusnya sesuai dengan keperluan pasar bila pengemasan bertujuan untuk komersial. Kemasan dapat pula dilakukan dengan menggunakan kemasan cup plastik, ukuran aqua cup atau yang lebih besar. Ragam bentuk dan ukuran sangat ditentukan oleh kebutuhan pasar.
Untuk menghasilkan kemasan yang baik dengan mempertimbangkan keawetan produk yang dihasilakan perlu diperhatikan hal-hal sabagai berikut: 
a.       Kemasan harus bersih atau steril. 
b.      Isi kemasan diusahakan penuh agar tidak ada udara tersisa dalam kemasan sehingga mikroba kontaminan tidak tumbuh.
Proses pengemasan produk Nata de Coco dapat dilakukan sebagai berikut; Nata de Coco yang telah direbus dengan penambahan gula dan flavouring agent tertentu didinginkan hingga suhu 40 oC. Produk tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam kemasan plastik atau cup secara aseptik untuk menghindari contaminan. Pengisian produk kedalam kemasan harus penuh agar tidak tersisa udara dalam kemasan sehingga mikroba kontaminan tidak bisa tumbuh. Kemasan selanjutnya ditutup dengan menggunakan sealer. Setelah pengemasan selesai produk dimasukkan dalam air dingin hingga produk menjadi dingan dan segera ditiriskan. Selanjutnya produk yang telah dikemas dan didistribusikan atau disimpan dalam penyimpan berpendingin agar tetap segar dan lebih awet. (http://www.smallcrab.com/others/448-membuat-nata-de-coco)



4.      ASUMSI DAN PARAMETER PERHITUNGAN
Dalam analisis keuangan, proyeksi penerimaan dan biaya dilandaskan atas beberapa asumsi yang terangkum dalam Tabel Periode proyek adalah 4 tahun (tahun 1, 2, 3 dan 4). Tahun ke nol sebagai dasar perhitungan nilai sekarang (present value) adalah tahun ketika biaya investasi awal dikeluarkan. Dengan tingkat keberhasilan fermentasi sebesar 95%, pengusaha dapat menghasilkan 1.600 nata de coco lembaran (kurang lebih 1.600 kg).


Tabel :Asumsi Analisis Keuangan
No
Asumsi
Satuan
Jumlah/
nilai
Keterangan
1
Periode proyek
tahun
10
Periode proyek 10 tahun
2
Tingkat keberhasilan fermentasi
persen
95
 
3
Kapasitas Mesin/Peralatan
 
 
 
 
- Nata de coco kemasan
Dus
18.500
500 karton (1 karton 24 gelas)/Bulan
 
-



5
Harga Nata de coco
 
 
 
 
a. Kemasan gelas



 
- Pasar lokal
Rp/karton
11.500

 
- Pasar luar daerah
Rp/karton
12.500
Perbedaan biaya transportasi
 




6
Proporsi Penjualan
 
 
 
 
- Pasar Lokal
 
70%
 
 
- Pasar luar daerah
 
30%
 
7
Hari produksi dalam 1 tahun
hari
313
Hari Minggu libur
9
Discount rate
 
14%
 
Sumber : Lampiran 1
Harga nata de coco kemasan adalah Rp 18.500 per karton di pasar lokal dan Rp 19.500 per karton di pasar luar daerah. Output yang dijual di pasar lokal 70% dan di pasar luar daerah adalah 30% . Dengan asumsi bahwa setiap hari Minggu tidak berproduksi, maka jumlah hari produksi adalah 313 hari dalam setahun. Persyaratan 30%  adalah dana sendiri. Dengan melihat siklus usaha dari produksi sampai dengan mendapat pembayaran adalah kurang lebih 1,5 bulan maka dana untuk modal kerja dari yang berasal dari kredit adalah 12% dari total modal kerja. Discount rate riil diasumsikan sebesar 14%.

5.      KOMPONEN BIAYA INVESTASI DAN BIAYA OPERASIONAL
Untuk memproduksi nata de coco dibutuhkan input yang dibedakan atas input tetap (fixed input) dan input variabel (variabel input). Pemakaian input membawa konsekuensi pada biaya: biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost). Input tetap adalah input yang jumlahnya tidak tergantung dari jumlah output nata de coco yang diproduksi, contoh: mesin, bangunan pabrik, peralatan, dan lain-lain. Dalam bahasa sehari-hari biaya tetap ini sering disebut dengan biaya investasi. Input variabel adalah input yang jumlahnya tergantung dari jumlah output nata de coco yang diproduksi, contoh: bahan baku, tenaga kerja, bahan bakar, dan lain-lain. Dalam bahasa sehari-hari biaya variabel ini sering disebut biaya operasional. Selanjutnya, kita akan menggunakan istilah biaya investasi dan biaya operasional.
Secara sederhana, biaya investasi adalah biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan nata de coco yang menambah stok kapital perusahaan tersebut. Komponen biaya investasi meliputi: perijinan usaha, bangunan dan tanah, mesin/peralatan (drum, kompor, dandang, penyaring, pH meter, nampan, dll) dan kendaraan. Sedangkan biaya operasional adalah biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk keperluan upah, bahan baku, bahan pembantu, listrik dan lain-lain yang terkait dengan penggunaan input.


5.1.Biaya Investasi
Biaya investasi usaha nata de coco adalah biaya tetap (fixed cost) yang terdiri dari biaya perizinan usaha, biaya tanah dan bangunan, mesin dan peralatan. Biaya perizinan hanya dibutuhkan satu kali. Biaya tanah dan bangunan adalah biaya sewa yang dibayarkan pada awal periode. Dalam analisis keuangan ini diasumsikan umur usaha adalah 10 tahun. Pada kenyataannya setiap mesin/peralatan memiliki umur ekonomis masing-masing. Sehingga, mesin/peralatan yang memiliki umur ekonomis di bawah 4 tahun harus diadakan kembali (reinvestasi). Sebagai contoh, setiap saringan memiliki umur ekonomis 1 tahun, maka setiap tahun harus ada investasi untuk saringan. Selama umur proyek berarti akan terdapat reinvestasi sebanyak empat kali. Untuk mempermudah proses perhitungan, peralatan yang umur ekonomisnya di bawah empat tahun diasumsikan tersedia di awal periode perhitungan sejumlah tertentu sehingga dapat mencukupi umur proyek. Sebaliknya, mesin/peralatan yang memiliki umur ekonomis di atas umur proyek maka pada akhir proyek peralatan tersebut masih memiliki nilai ekonomis (scrap value). Sebagai contoh hand refractometer memiliki nilai ekonomis 10 tahun. Oleh karena itu, pada akhir periode proyek hand refractometer memiliki nilai ekonomis sebesar penyusutan dikalikan dengan sisa umur ekonomis.
Tabel 5.2 menunjukkan biaya investasi awal proyek (untuk rinciannya lihat Lampiran 2). Biaya perizinan hanya dikeluarkan sekali pada awal usaha sehingga tidak memiliki penyusutan. Biaya sewa tanah  sebesar Rp. 10.000.000,- dan bangunan sebesar Rp 10.000.000 untuk 10 tahun, sehingga nilai penyusutannya adalah Rp 2.000.000/tahun. Biaya investasi peralatan dan mesin sebesar Rp 50.000.000 Dengan memperhatikan umur ekonomis masing-masing peralatan/mesin, maka nilai penyusutan peralatan/mesin secara total adalah Rp 5.000.000 per tahun selama periode usaha 10 tahun.  Jadi totoal keseluruhan penyusutan adalah Rp.7.000.000,-


Tabel 5.2. Biaya Investasi Pengolahan Nata de coco/Tahun

No
Uraian
Banyaknya
Harga (Rp)
Jumlah (Rp)
1
Sewa lahan
1 tahun
Rp  1.000.000,-
Rp 10.000.000,- 
2
Gudang
1 unit
Rp 10.000.000
Rp 10.00.000,-
3
Mesin dan Peralatan
Lengkap
Rp 50.000.000
Rp  50.000.000,-

Total


Rp 70.000.000,-

Penyusutan per  tahun
  Rp. 7.000.000;-



5.2.Biaya Operasional
Biaya operasional usaha nata de coco merupakan biaya variabel (variabel cost) yang besarnya tergantung dengan jumlah nata de coco yang diproduksi. Dalam analisis keuangan ini yang dianalisis adalah usaha jenis kemasan, maka yang dimaksud dengan produk akhir dari usaha nata de coco adalah dalam bentuk kemasan. Usaha jenis ini akan memproses semua nata de coco lembaran yang dihasilkan menjadi nata de coco kemasan, dan tidak menjual nata de coco dalam bentuk lembaran. Tabel 5.3 menunjukkan biaya operasional usaha nata de coco kemasan.

Tabel 5.3. Biaya Operasional Nata de coco/tahun

No
Uraian
Banyaknya
Harga (Rp)/satuan
Jumlah (Rp)/thn
1
Bahan Baku dan Pembantu
60 Jeregen/bln
Rp 15.000
Rp 900.000,- 
2
Tenaga kerja
3 orang
Rp 3.000.000,-
Rp 36.000.000
3
Listrik
1
Rp 150.000,-
Rp 1.800.000,- 
4
 Gas
8 buah/bln
Rp 720.000,-
Rp 8.640.000

Total


Rp 47.340.000

6.      PRODUKSI DAN PENDAPATAN
Output dari usaha nata de coco dalam analisis keuangan ini adalah nata de coco kemasan gelas. Setiap bulan dapat dihasilkan nata de coco kemasan sebanyak 14.400 gelas (atau 600 karton dimana setiap karton terdiri dari 24 nata de coco gelas). Karena adanya biaya transportasi maka terdapat perbedaan antara harga di pasar lokal dan di pasar luar daerah. Harga di pasar lokal adalah Rp 18.500 dan harga di pasar luar daerah adalah Rp 19.500. Distribusi pemasaran nata de coco adalah 70% untuk pasar lokal dan 30% untuk pasar luar daerah. Dengan demikian harga rata-rata tertimbang nata de coco per karton adalah:
(30% X Rp. 19.500) + (70% X Rp. 18.500) = Rp. 18.800
Penerimaan setiap produksi sebanyak 600 karton adalah:
Rp. 18.800 X 600 = Rp. 11.280.000 (pendapatan perbulan)
Dengan asumsi dalam setahun maka penerimaan dalam setahun adalah:
Rp. 11.280.000 X 12 = Rp. 135,360,000 (pendapatan pertahun)
Dengan demikian, aliran penerimaan usaha nata de coco tersebut adalah Rp 135,360,000 per tahun. Sedangkan aliran biaya seperti yang telah dikemukakan di atas yaitu terdiri dari biaya investasi dan biaya operasional. Biaya investasi dalam aliran biaya dinyatakan dalam biaya penyusutan barang-barang investasi. Proyeksi pendapatan dan biaya selengkapnya bisa dilihat di bawah ini:
6.1. Biaya investasi
No
Uraian
Banyaknya
Harga (Rp)
Jumlah (Rp)
1
Sewa lahan
1 tahun
Rp 1.000.000,-
Rp 1.000.000,- 
2
Gudang
1 unit
Rp 10.000.000
Rp 10.00.000,-
3
Mesin dan Peralatan
Lengkap

Rp  50.000.000,-

Total


Rp 61.000.000,-

6.2. biaya tetap
No
Uraian
Banyaknya
Harga (Rp)
Jumlah (Rp)

Penyusutan lahan
1 thn
Rp 1.000.000
Rp 1.000.000,- 

Penyusutan gudang
10 thn
Rp 1.000.000,-
Rp 1.000.000,- 

Penyusutan mesin dan peralatan
10 thn
Rp 5.000.000
Rp 5.000.000,- 

Total

Rp 583.333/bln
Rp 7.000.000,-

6.3. Biaya variabel
No
Uraian
Banyaknya
Harga (Rp)/satuan
Jumlah (Rp)/thn

a. Bahan Baku dan Pembantu
60 Jeregen
Rp          15.000,-
Rp 900.000,- 

b. Tenaga kerja
4 orang
Rp 4.200.000,-
Rp 36.000.000

c. Listrik
1
Rp      150.000,-
Rp 1.800.000,- 

d. Gas
8 buah
Rp      720.000,-
Rp 8.640.000

Total

Rp 5.085.000,-
Rp 47.340.000

6.4. Total Biaya 
=Biaya Tetap + Biaya Variabel 
= Rp 7.000.000,- + Rp 47.340.000
= Rp 54.340.000,-

6.5. Produksi Nata De coco
= 600 dus x Rp 18.800
= Rp 11.280.000,-
= 12 x 11.280.000 =  Rp. 135,360,000 

6.7. Keuntungan 
Produksi - Total Biaya
= Rp 133.200.000 - 54.340.000,-
= Rp 78.860.000

6.8. Break Event Point  :
BEP volume produksi = Total biaya : Harga produksi
                                    =  Rp 54.340.000 : Rp 18.800
                                    = 2.890 dus
Titik balik modal usaha Nata De Coco CV.Mitra Kurnia akan tercapai jika produksi mencapai 2.890 dus per periode produksi.
BEP harga produksi   = Total biaya    : Volume produksi
                                   =  Rp 54.340.000 :   7.200 dus
                                   = Rp. 7.547,-
Titik balik modal usaha Nata De Coco CV.Mitra Kurnia selama satu periode penanaman akan tercapai jika harga jual per unit mencapai Rp. 7.547 per periode produksi
6.9. R/C ratio :
  R/C ratio                    =  Hasil penjualan : Total biaya
                                     =  Rp. 135,360,000 Rp 54.340.000
                                     =  2.5
Karena nilai R/C ratio lebih besar dari 1, maka usaha cocopeat Bina Usaha layak dilakukan.
6.10.        Return of Invesment :
   ROI                          =  Keuntungan : Total biaya x 100%
                                    =  Rp 78.860.000 : Rp 54.340.000x 100%
                                   = 15%
ROI sebesar 15%. Artinya, dari setiap pengeluaran Rp 1 akan menghasilkan keuntungan sebesar Rp. 1,5.

Jadi, keuntungan rata-rata pertahun pada CV.Mitra Kurnia sebesar Rp. 78.860.000,- dan keuntungan perbulan adalah sebesar Rp.6.572.000,- maka dinyatan bahwa Home industry Nata De coco ini layak untuk di usahakan.
7.      Sistem Pemasaran Pada Industri Rumah Tangga Nata De Coco Khausar.
Pemasaran adalah termasuk salah satu kegiatan penting dalam perusahaan, tidak hanya terbatas aktifitas menjual atau jasa saja atau pemindahan barang dari suatu tempat ketempat lainnya. Pemasaran dalam arti sempit adalah hasil prestasi kegiatan usaha yang yang berkaitan dengan pengalirkan barang dan jasa dari produsen ke konsumen/masyarakat. Sedangkan pemasaran dalam arti luas memiliki arti untuk mencari kesempatan menjual yang kemudian dimanfaatan sepenuhnya dan mencari yang paling efisien untuk memanfaatkan kesempatan yang diperoleh jangan sampai kehilangan kesempatan menjual.
Dalam pemasaran produk nata de coco, industri rumah tangga  ini memasarkan produknya hanya baru dilakukan pada daerah Banda Aceh dan Aceh Besar, belum dilakukan pemasaran keluar daerah sekitarnya, ini disebabkan karena industri nata de coco ini belum lama dibangun dan masih kekurangan modal sehingga produk yang dihasilkan masih terbatas. Terkadang pun industri tidak mampu permintaan pasar. Industri nata de coco ini masih lebih memfokuskan produknya agar bias dinikmati oleh konsumen lokal terlebih dahulu. Dalam strategi pemasaran ada 4 unsur strategi bauran pemasaran yang merupakan yang dijalankan oleh suatu perusahaan yang dapat mencapai sasaran pasarn yang dituju yaitu strategi produk, harga, promosi, dan saluran distribusi.
a.       Produk
Produk adalah segala sesuatu yang biasa ditawarkan kepada seluruh segmen pasar agar diperhatikan, produk yang ditawarkan oleh usaha rumah tangga ini adalah Nata De Coco dengan menggunakan merek “Khausar” dengan ukuran per cup 250 gr dan menghasilkan produk per minggunya 3600 cup.
b.      Harga
Harga adalah nilai satuan dari produk. Harga suatu produk sangat mempengaruhi pendapatan. Usaha nata de coco ini menjual produknya dengan harga Rp.18.500.- Per dus
c.       Promosi
Promosi pada hakikatnya merupakan suatu bentuk mempengaruhi perilaku pembeli baik dari pelanggan maupun calon pelanggan. Peran promosi adalah menjelaskan kepada pelanggan dan calon pelanggan mengenai keunggulan yang dimiliki oleh suatu produk. Industri rumah tangga nata de coco ini hanya melakukan promosi dari mulut ke mulut saja.
d.      Saluran distribusi
Saluran pemasaran dapat diartikan sebagai jalur atau rantai pemasaran yang dilalui dalam proses pemindahan produk dari produsen sampai ke tangan konsumen. Pemilihan saluran pemasaran yang tepat dan benar dapat mengoptimalkan keuntungan yang diperoleh, sehingga berdampak pada kelangsungan dan perkembangan perusahaan tersebut.


BAB IV
PENUTUP
1.      Kesimpulan
1.      Bakteri yang berperan dalam pembuatan nata de coco adalah Acetobacter xylinum
2.      Acetobacter xylinum berbentuk batang pendek dan merupakan bakteri gram negatif
3.      Tahap pembuatan yaitu : persiapkan alat dan bahan, pembiakan Acetobacter xylinum, pembuatan starter, fermentasi.
4.      Usaha Nata de coco layak untuk diusahakan karena pendapatannya lebih besar.
2.      Saran
Dengan melihat prospek pasar domestik dan pasar ekspor yang cerah,pemerintah dan pelaku usaha perlu untuk meningkatkan standar mutuproduk nata de coco yang memenuhi kriteria preferensi pasar dankesehatan.
Pengembangan pola kemitraan antara usaha besar, menengah dankecil maupun rumah tangga dalam pasokan input maupun pemasaranoutput.
Secara finansial, usaha ini layak dibiayai oleh bank, meskipundemikian bank perlu melakukan analisis kredit yang lebihkomprehensif dengan prinsip kehati-hatian. Disarankan bankmemberikan perhatian pada kemampuan membayar yang lebih besar.Pemberian kredit investasi dan modal kerja pada tahun yang samakemungkinan akan dapat memberatkan nasabah dalam hal membayarcicilan pokok dan bunganya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2011. Pengolahan Nata de Coco. http://www.bi.go.id/sipuk/id/?id=4&no=52301&idrb=46501 (diakses pada tanggal 2 November 2011)
Anonymous,2011. http://bioindustri.blogspot.com/2008/05/kemampuan-bakteri-acetobacter-xylinum.html (diakses pada hari Rabu, 19 Oktober 2011, pukul 08.10 WiIB)
Anonymous,2011. http://www.smallcrab.com/others/448-membuat-nata-de-coco (diakses pada hari Jumat, 21 Oktober 2011, pukul 09.18 WIB)
Sutarminingsih L,Ch. 2004. Teknologi Pengolahan Pangan Peluang Usaha Nata De Coco. Yokyakarta: Kanisius.

1 komentar:

  1. misi

    numpang promo gan!!
    jual bibit nata dengan harga 30rb per btol

    cp. 085649253544

    BalasHapus